Kehidupan manusia saat ini tidak terlepas dari penggunaan plastik. Namun disisi lain, plastik merupakan bahan anorganik, yang membutuhkan waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk dapat terurai dalam tanah. Perlu dikembangkan solusi yang tepat agar dapat mengurangi sampah jenis plastik tersebut, sekaligus menghasilkan produk lain yang bermanfaat dan berdayaguna.

Sehubungan dengan itu, belakangan kita mengenal istilah proses daur ulang plastik. Yaitu pemanfaatan sampah plastik menjadi produk yang lebih bermanfaat, dikarenakan semakin meningkatnya kepedulian berbagai pihak akan lingkungan yang sehat berkelan- jutan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan berkenaan den- gan itu adalah konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak setara bensin dan solar. Proses ini dapat dilakukan ka- rena pada dasarnya plastik ada- lah polimer atau rantai panjang atom yang saling mengikat satu sama lain. Karena pada dasarnya plastik berasal dari minyak bumi, maka proses ini dapat dikatakan hanya mengembalikannya ke dalam bentuk asal mulanya.

Indonesia terkenal sebagai masyarakat dengan budaya yang konsumtif, termasuk dalam pemakaian barang-barang elektronik, entah itu gadget, ponsel, televisi model terbaru, komputer, laptop, dan sebagainya. Setiap hari, pasti ribuan jenis barang elektronik diproduksi dan diimpor ke negeri ini.

Tapi pernahkah terbayangkan, bagaimana nasib barang elektronik bekas yang sudah tak dipakai. Sudah benarkah pengelolaan sampah elektronik atau electronic waste atau e-waste di Indonesia? Sebab jika salah pengelolaan, e-waste yang banyak mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3) akan memberi dampak negatif bagi manusia.

Kita sering dengar banyak pengusaha yang memulai bisnis daur ulang sampah. Mereka membangun sebuah pabrik, kemudian mempekerjakan pemulung untuk memungut sampah yang akan didaur ulang di pabrik tersebut. Hasil daur-ulangnya kemudian di jual ke luar negeri seperti Jepang.

Sistem ini memang layaknya kita dukung, terutama karena dia membantu Indonesia menjadi negara yang lebih “hijau”. Tetapi, ada dua hal yang menurut saya masih kurang dari sistem ini.

Sampah sepertinya menjadi permasalahan yang tak kunjung habis untuk didiskusikan. Setelah beberapa kaliberkunjung ketempat pembungan akhir (TPA) sampah untuk melihat dengan mata kepala sendiri produksi sampah yang dihasilkan oleh masyarakat kota perhari dan bagaimana cara pengelolaannya di TPA.

Urusan sampah di Indonesia belum menggembirakan. Gunung sampah semakin menjulang di tempat pembuangan akhir (TPA). Mencoba inovasi baru pengelolaan sampah terjangkau menjadi sangat penting.

Melihat kota-kota di Jepang yang bersih, itu bukan tanpa usaha. Dalam kehidupan sehari-hari kita, di taman kota yang luas, sering tidak disediakan tempat pembuangan sampah umum untuk keindahan. Kalaupun ada, itu berupa tempat sampah ukuran biasa. Bagaimana menangani karakter sampah di Indonesia yang sudah telanjur campur, tidak dipisah-pisah dalam pengelolaannya.

Page 1 of 2