Sampah sepertinya menjadi permasalahan yang tak kunjung habis untuk didiskusikan. Setelah beberapa kaliberkunjung ketempat pembungan akhir (TPA) sampah untuk melihat dengan mata kepala sendiri produksi sampah yang dihasilkan oleh masyarakat kota perhari dan bagaimana cara pengelolaannya di TPA.

Dari sini baru diketahui ternyata kalau hasil sampah perkotaan perhari sangat banyak, sebagai contoh di TPA Piyungan Bantul Yogyakarta menampung lebih dari 100 ton/hari sampah (hasil diskusi dengan Kepala UPT). Jumlah yang menggunung ini masih sedikit terbantu dengan keberadaan pemulung yang bisa mengambil 10 ton/hari untuk jenis plastik tertentu untuk dijual kembali kepengepul untuk didaur ulang (recycled). Sedikit ada angin segar lagi kalau untuk sampah plastik ternyata bisa juga untuk bahan bakar pembuatan semen.

Terlepas dari itu semua, bagaimana dengan karakteristik budaya manusia dalam mengelola sampah ini. Ilustrasi berikut bisa menggambarkan perilaku masyarakat dalam mengelola sampahnya. Bahkan hingga kini masih banyak yang membuang sampahnya secara sembarangan seolah tidak peduli bahwa hal ini sangat mengganggu lingkungan dan warga di sekitarnya.

Larangan untuk membuang sampah sembarangan (foto: tinton norsujianto)

Sampah berserakan di pinggir jalan desa di Waguwoharjo, Yogyakarta (foto: tinton norsujianto)

Seharusnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya disosialisasikan secara preventif dan melalui komunikasi tatap muka oleh pemerintah sehingga menimbulkan memori dan tersimpan dalam mindset masyarakat. Jika perlu, ada tindakan tegas kepada pelaku yang membuang sampah sembarangan namun bukan berarti mengenakan sanksi denda karena hal itu akan berbuntut masalah baru, yaitu korupsi. Yang dimaksud tindakan tegas adalah hukum kurungan langsung atau sanksi moral. Pembentukan satuan aparat pun dirasa perlu, agar fokus menangani masalah tersebut.

Lembaga yang berwenang menangani masalah sampah, yaitu  pemerintah, juga dirasa kurang memaksimalkan pelayanannya kepada masyarakat. Kedatangan truk sampah yang tidak tepat waktu tak jarang membuat banyaknya keluhan di masyarakat karena tumpukan sampah telah membusuk. Budaya kuat pun dirasa tidak ada sehingga memunculkan pesimisme di masyarakat kepada pemerintah.

Masyarakat yang membuang sampah sembarangan, tidak hanya membuat kotor lingkungan bahkan suasana di wilayah tersebut akan kelihatan kumuh. Nah yang jadi permasalahan sekarang, apakah itu seluruhnya menjadi tugas pemerintah saja atau tugas bersama?. Mungkin dalam hal ini, tidak perlu ada yang disalahkan. Sekarang bagaimana menciptakan suasana yang asri dan bersih merupakan tugas bersama.

Yang lebih parah lagi, sungai buatan atau yang dikenal masyarakat desa dengan Selokan Mataram yang yang membentang dari sisi barat hingga bagian timur Yogyakarta khususnya yang penulis tangkap di wilayah Maguwoharjo. Bulan Desember 2012 di titik tertentu dilakukan pengerukan manual, agar debit air yang banyak dimusim penghujan seperti januari ini bisa terkendali.

Sampah berserakan di Selokan Mataram, Maguwoharjo, Yogyakarta (foto: tinton norsujianto)

Namun apa yang terjadi bisa terlihat dalam ilustrasi gambar di atas. Sampah berada disana sini didalam sungai buatan ini. Kita mungkin hanya bisa geleng kepala saja. Kok bisa ada yang membuang sampah di sungai. Padahal saat kita SD sudah diajarkan “jangan buang sampah sembarangan, jangan buang sampah kedalam sungai, nanti bisa banjir, bisa sakit”. Tetapi pada kenyataannya pesan sederhana itu hanya lewat saja.

Padahal PEMDA DIY sudah membuat perda 18/2002 tentang Pengelolaan Kebersihan, pelanggar hanya diancam denda maksimal Rp 2 juta. Diperkuat PEMDA Sleman 10/2001 denda Rp 5 juta atau kurungan 3 bulan. Revisi perda 18/2002 bahkan lebih berat sanksinya yaitu denda Rp 50 juta. Tindak lanjutnya BLH Yogyakarta sudah mensosialisasikan revisi perda baru tersebut. Namun masih banyak kendala yang dihadapi seperti sulitnya merubah pola fikir dan kebiasaan masyarakat untuk pengelolaan masyarakat.

Namun demikian dibalik rumitnya permasalahan sampah ini, masih ada segelintir masyarakat yang cukup peduli dengan berusaha mengelola sampah dengan baik. Ada yang melakukan pemilahan mulai dari rumah, pengelolaan sampah di tingkat RT/RW secara mandiri bahkan mendirikan bank sampah. Dari yang segelintir ini, menjadi tugas kita semua untuk menyebarkan dan menularkan virus pengelolaan sampah yang berkelanjutan sehingga seluruh masyarakat dapat mengadopsi sistem tersebut.

Model pemilahan sampah di sebuah RW di Wates, Yogyakarta (foto: syamsiro)

Kedepan Pemerintah juga harus lebih proaktif dalam memerangi sampah organik maupun anorganik. Dengan pola 3R (Reduce, Reuse dan Recycling) mulai dari RT, RW sampai ketingkat lebih tinggi. Jangan hanya membuat percontohan karena percontohan desa atau RT tentang pengelolaan sampah yang baik sudah banyak di Yogya atau di daerah lain yang pernah memenangkan Adipura. “Tepat sasaran” penulis rasa cukup efisien dalam menanggulangi sampah. Misalnya sampah saat di rumah tangga, perkantoran sudah terpisah dengan jenisnya tertentu. Sehingga saat berada di TPA bisa di pilah berdasar jenis dan bisa di daur ulang lagi. Pengelola TPA juga mestinya jangan setengah-setengah dalam pengelolaannya, sampah yang sudah dipilah di tempat asalnya jangan dicampur lagi di TPA. Karena akan menjadi sia-sia semua yang dikerjakan.

Tinton Norsujianto, Mahasiswa pascasarjana UGM dan Dosen Politeknik Negeri Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Comments   

 
+2 #3 jb basuki 2013-01-19 19:07
Sangat menarik. Ayo bersama kita ubah pola pikir penyampah-penya mpah yg tak bertanggung jawab.Salam kenal. -jbb
Quote
 
 
+1 #2 noviasri 2013-01-18 12:14
wih selokan mataram jadi kayak gitu :-|
Quote
 
 
+1 #1 Bayu Indrawan S 2013-01-17 17:41
:-)
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh