TENGGARONG. Belakangan ini Kutai Kartanegara (Kukar) maupun kabupaten dan kota lainnya di Kalimantan Timur (Kaltim), terus didera masalah energi, khususnya listrik. Karena setiap hari ada saja pemadaman listrik di Kukar dan sekitarnya. Kondisi ini memacu Bupati Kukar, Rita Widyasari beserta jajarannya untuk mencari terobosan. Salah satunya, membangun pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar pembangkit energi listrik.

“Kami segera membangun pabrik pengolahan sampah di lokasi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bekotok, Tenggarong. Di pabrik itu nanti sampah diolah menjadi bahan bakar serupa batu bara. Jika hasil pengolahan sampah itu dicampur batu bara asli, ya jadi batu bara yang bisa digunakan sebagai bahan bakar power plant pembangkit tenaga listrik uap di Kukar,” jelas Rita kepada harian ini.

Sampah elektronik bukanlah sekedar sampah. Disamping berbahaya, ternyata kita bisa mendulang emas dari sampah elektronik jika pintar mengolahnya. Emas sering kali digunakan untuk melapisi bagian-bagian tertentu dari komponen elektronika seperti prosesor, harddisk, ram, motherboard, atau mainboard, PCB handphone, PCB komputer, Integrated Circuit (IC), kartu cip handphone, dan sebagainya.

Komponen-komponen tersebut harus dilapisi emas karena hanya emaslah yang mampu menghantarkan arus listrik nyaris tanpa hambatan atau disebut juga zero resistensi. Oleh karena itu, banyak juga orang-orang yang berusaha "mendulang" emas dari sampah-sampah elektonik yang ada. Salah satunya Adi Kristyo Permadi. Dia bahkan mengajarkan kepada banyak orang tentang bagaimana cara pengambilan emas dan perak dari sampah elektronik hingga proses pemurniannya melalui e-book yang dibuatnya.

Pemanfaatan plastik bagi kehidupan manusia memang tidak terelakkan. Sebagian penduduk dunia menggunakan plastik dalam kehidupan sehari hari. Menurut perhitungan Kementerian Lingkungan Hidup (2008), jumlah sampah plastik penduduk indonesia setiap harinya sebesar 23.600 ton dan saat ini sampah plastik telah menumpuk hingga 6 juta ton atau setara dengan berat 1 juta gajah dewasa. Impor plastik dan barang dari plastik sepanjang Januari-Juli tahun 2011 melonjak 46% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, karena tingginya permintaan terhadap bahan baku plastik di dalam negeri. Adapun untuk impor barang dari plastik atau barang jadi, menurut dia, terjadi khususnya pada produk terpal plastik impor, mainan anak-anak dari plastik, peralatan dapur (piring plastik).

Konsumsi plastik dalam kehidupan sehari-hari semakin meningkat selama tiga dekade terakhir. Sifat plastik yang ringan, transparan, mudah diwarnai, tahan terhadap korosi dan mudah dibentuk merupakan alasan utama penggunaannya yang populer. Namun plastik juga memiliki kelemahan terutama setelah menjadi sampah.

Sampah tampaknya telah menjadi persoalan serius yang tidak pernah terselesaikan hingga saat ini. Sebagian besar masyarakat pun sangat mencemaskan kondisi ini. Banyak masyarakat yang mengekspresikan kegalauannya terkait masalah sampah seperti yang rutin dilakukan warga Jogja setiap tahunnya dengan melakukan aksi Grebeg Sampah, yakni dengan melakukan berbagai aktivitas dan performance art dengan tema terkait dengan persoalan sampah.

Seiring dengan kemajuan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan masyarakat, produksi sampah khususnya di kota-kota besar terus meningkat secara signifikan. Sebagai misal, di kota Jogja sampah yang diproduksi mencapai sekitar 300 ton per hari dan sebagian besar masih ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Sementara ketersediaan lahan TPA di Piyungan, Bantul sangat terbatas dan diperkirakan hanya sanggup menampung hingga tahun 2012 ini. Perbaikan manajemen sampah pun mulai dilakukan dengan konsep 3R (reduce, reuse and recycle). Pengelolaan sampah dengan mendirikan Bank Sampah seperti di daerah Bantul juga merupakan langkah inovatif yang patut dicontoh.

Page 1 of 2