TENGGARONG. Belakangan ini Kutai Kartanegara (Kukar) maupun kabupaten dan kota lainnya di Kalimantan Timur (Kaltim), terus didera masalah energi, khususnya listrik. Karena setiap hari ada saja pemadaman listrik di Kukar dan sekitarnya. Kondisi ini memacu Bupati Kukar, Rita Widyasari beserta jajarannya untuk mencari terobosan. Salah satunya, membangun pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar pembangkit energi listrik.

“Kami segera membangun pabrik pengolahan sampah di lokasi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bekotok, Tenggarong. Di pabrik itu nanti sampah diolah menjadi bahan bakar serupa batu bara. Jika hasil pengolahan sampah itu dicampur batu bara asli, ya jadi batu bara yang bisa digunakan sebagai bahan bakar power plant pembangkit tenaga listrik uap di Kukar,” jelas Rita kepada harian ini.

Untuk mewujudkan langkah tersebut, belum lama ini Rita bersama sejumlah pejabat terkait, seperti Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kukar, Basri Hasan serta Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan, Aji Hendrete Nadia Nuraini dan Kepala Perusda Kelistrikan dan Sumber Daya Energi (PKSDE) Kukar, M Shafik Avicenna mengunjungi kota Shanghai, China.
Dalam kunjungannya itu Rita dan jajarannya melihat langsung pabrik pengolahan sampah menjadi sumber energi, berupa pupuk dan bahan serupa batu bara berkalori 5-6 ribu. Nah, pabrik serupa di Shanghai itulah akan dibangun Pemkab Kukar di TPA Bekotok, Tenggarong. Tidak tanggung-tanggung, ditargetkan pabrik pengolah sampah menjadi sumber energi itu sudah beroperasi November 2014.

“Jadi kita akan memiliki sumber energi baru dan terbarukan. Sebab sampah terus diproduksi warga Tenggarong dan sekitarnya. Bahkan ke depan, kita juga mengambil sampah dari Samarinda. Nah, pengelolaan sampah menjadi sumber energi itu nanti dilakukan PKSDE bekerjasama pihak swasta. Pembangunan pabrik pengolah sampah itu juga dilakukan pihak investor, buka dengan APBD,” urai bupati perempuan pertama di Kaltim ini.
Dipastikan pembangunan pabrik pengolah sampah itu berjalan lancar. Mengingat teknologi itu sebenarnya dikuasai tenaga ahli asal Indonesia, namun hal paten milik orang Jepang dan pembangunannya dilakukan pengusaha China.

“Ya di pabrik pengolah sampah ini, kita sudah melihat langsung hasilnya berupa pupuk dan bahan batu bara. Jadi nanti Kukar pertama di Indonesia memiliki pabrik pengolah sampah sebagai sumber energi, seperti di Shanghai ini,” tambah Rita.

Sementara itu Presiden Direktur PT Ametis Indo Sampah, Bayu Indrawan, selaku mitra kerja PKSDE Kukar, menjelaskan mesin pengolahan sampah tersebut menggunakan prinsip teknologi hidrotermal dengan memanfaatkan uap panas. Sampah berbagai jenis itu dimasukkan ke dalam sebuah reaktor, lalu diinjeksikan dengan uap panas sekitar 25-30 bar.

"Jadi begitu sampah keluar sudah berupa bahan homogen, tidak bau lagi. Berbentuk pupuk dan bahan sama dengan batu bara. Begitu produk ini dicampur 80 persen batu bara, karakteristik seperti asli batu bara. Tentu dengan modifikasi kita bisa membuat power plant khusus dengan bahan bakar produk ini,” jelas Bayu sembari menyebut produk pengolahan sampah menjadi batu bara itu cocok diimplementasikan di Indonesia.(idn/agi)

sumber: Samarinda Post (http://www.sapos.co.id)

Comments   

 
0 #1 Tono 2015-02-25 17:41
brp biaya per ton produk akhirnya?
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh