Sampah tampaknya telah menjadi persoalan serius yang tidak pernah terselesaikan hingga saat ini. Sebagian besar masyarakat pun sangat mencemaskan kondisi ini. Banyak masyarakat yang mengekspresikan kegalauannya terkait masalah sampah seperti yang rutin dilakukan warga Jogja setiap tahunnya dengan melakukan aksi Grebeg Sampah, yakni dengan melakukan berbagai aktivitas dan performance art dengan tema terkait dengan persoalan sampah.

Seiring dengan kemajuan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan masyarakat, produksi sampah khususnya di kota-kota besar terus meningkat secara signifikan. Sebagai misal, di kota Jogja sampah yang diproduksi mencapai sekitar 300 ton per hari dan sebagian besar masih ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Sementara ketersediaan lahan TPA di Piyungan, Bantul sangat terbatas dan diperkirakan hanya sanggup menampung hingga tahun 2012 ini. Perbaikan manajemen sampah pun mulai dilakukan dengan konsep 3R (reduce, reuse and recycle). Pengelolaan sampah dengan mendirikan Bank Sampah seperti di daerah Bantul juga merupakan langkah inovatif yang patut dicontoh.

 

Tempat pembuangan akhir sampah di Piyungan, Bantul (foto: syamsiro)

Yang menarik di negara berkembang seperti Indonesia adalah adanya peran pemulung yang tidak bisa diabaikan begitu saja dengan turut membantu mengurangi timbunan sampah yang ada. Prinsip 3R ini nampaknya sangat sulit dilakukan karena sangat membutuhkan partisipasi dan peran aktif masyarakat. Sebaik apapun implementasi konsep 3R tetap tidak akan menghilangkan sama sekali keberadaan sampah, karena hanya akan meminimalisasi sampah.

Hal ini berarti perlu adanya suatu teknologi untuk proses pengolahan sampah yang dapat mengurangi volumenya dan sedapat mungkin mendapatkan produk lain dari proses tersebut. Beberapa elemen masyarakat telah mengembangkan sistem pengomposan, tetapi itu hanya berlaku untuk jenis sampah tertentu dan membutuhkan waktu lama. Mengubah sampah menjadi energi nampaknya bisa menjadi solusi yang cukup tepat di saat persoalan energi pun sedang mengemuka seiring dengan menipisnya cadangan minyak bumi.

Mengubah sampah menjadi energi tentunya tidak hanya sekedar dilakukan dengan cara-cara konvensional yang selama ini telah diketahui oleh sebagian masyarakat seperti misalnya dengan teknologi biogas. Ada beberapa teknologi yang cukup inovatif dan telah dikembangkan di negara maju dan sebagian sudah masuk tahap komersial. Diantaranya adalah teknologi hydrothermal treatment yang dikembangkan di Jepang (Yoshikawa, 2009). Dari proses ini bisa dihasilkan bahan bakar, pupuk dan makanan ternak. Prinsip teknologi ini adalah dengan memanaskan sampah pada suhu dan tekanan yang tinggi sehingga sampah akan terdekomposisi. Keunggulan teknologi ini adalah dapat memproses sampah dengan kandungan air yang tinggi.

Hydrothermal treatment skala komersial di Jepang (foto: http://yk.wtert.jp)

Permasalahan plastik

Yang kemudian dicemaskan oleh masyarakat adalah keberadaan plastik yang tidak mudah hancur dengan hanya menimbun dalam tanah. Dengan teknologi ini semua jenis plastik pun bisa hancur dengan mudahnya. Bahkan ada teknologi lain yang akan mengubah plastik menjadi bahan bakar cair setara bensin dan solar (UNEP, 2009). Prinsip teknologinya menggunakan teknik pirolisis dengan bantuan katalis. Perlu untuk diketahui, plastik sesungguhnya berasal dari minyak bumi yang kemudian diolah melalui beberapa proses, sehingga kandungan energi plastik sangat tinggi yang tentunya sangat baik bila diubah menjadi bahan bakar. Beberapa negara pun sudah mulai mengembangkan skala komersial teknologi ini.

Contoh minyak dari sampah plastik (foto:syamsiro)

Sebagai penutup, memang sangat diperlukan sekali komitmen pemerintah dalam pengelolaan sampah secara terpadu dan berkelanjutan. Mengandalkan partisipasi masyarakat saja tidak cukup karena diperlukan regulasi-regulasi yang bisa mengawal dan mempercepat implementasi pengelolaan sampah. Usaha-usaha meminimalisasi produksi sampah sangat penting, tetapi mencari alternatif pengolahan sampah juga tidak kalah penting, apalagi bisa mendapatkan nilai tambah dari pengolahan tersebut seperti produksi energi. Masyarakat pun perlu untuk diedukasi dengan teknologi baru yang ada supaya nantinya tidak menimbulkan resistensi akibat kesalahpahaman yang seringkali terjadi.

sumber: http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2012/09/16/saatnya-memanen-energi-dari-sampah-487273.html

Add comment


Security code
Refresh